Skip to main content

Kode ICD-10 (The International Classification of Diseases and Related-health Problem 10th) Diagnosa Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

 Apa itu Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)?

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah permasalahan Kesehatan pada saluran pernafasan yang lebih banyak dipicu oleh rokok, partikel berbahaya, dan factor usia lanjut

Kode ICD-10 PPOK seringkali digunakan dalam proses pendiagnosisan (diagnosa) penyakit paru obstruktif kronis dalam dunia medis.

ICD-10 sendiri merupakan sarana pengkodingan (pengkodean) terhadap :

·         Penyakit

·         Tanda-tanda

·         Gejala

·         Keluhan

·         Keadaan sosial, dan eksternal psikis

·         Serta temuan abnormal dalam diri pasien

Yang menyebabkan terjadinya cedera seperti yang sudah terklasifikasikan dalam World Health Organization (WHO).

Berdasarkan pandangan Linda Handayuni dalam sebuah buku Rekam Medis dalam Manajemen Informasi Kesehatan, ICD-10 atau lebih dikenal dengan sebutan The International Classification of Diseases and Related-health Problems 10th digunakan dalam mendapatkan rekaman secara tersistematis, melakukan analisis, interprestasi, menerjemahkan diagnosa, sampai dengan membanding-bandingkan data morbiditas.

Dalam hal ini, permasalahan Kesehatan dalam bentuk kata-kata akan dijadikan sebagai kode alfanumerik yang memudahkan dalam proses penyimpanan, pengolahan, dan analisis data untuk system pembayaran dan penagihan biaya.

Kode (coding) dalam istilah medis tersebut juga digunakan untuk membuat inforamasi diagnosa, riset, edukasi, dan kajian assessment.

The International Classification of Diseases and Related-health Problems 10th sudah disusun sejak tahun 1900.

Klasifikasi dalam pengelompokan penyakit dalam tercantum pada Major Diagnostic Categories (MDC) yang menjadi kategori diagnose penyakit secara umum.

Apa itu istilah Medis Kode ICD-10 PPOK?

Bila berbicara tentang kode ICD-10 PPOK, PPOK lebih dikenal dengan penyakit paru obstruktif kronis adalah permasalahan Kesehatan yang disebabkan oleh rokok, partikel-partikel berbahaya yang berkumpul dalam tubuh dan juga karena adanya factor usia lanjut.

Adapun kode ICD-10 PPOK sendiri adalah J44.

Namun untuk lebih lengkapnya sendiri, simak beberapa kode ICD-10 PPOK seperti dikutip dari situs Unbound Medicine berikut ini :

1.       J44 (Penyakit Paru Obstruktif Kronik).

2.       J44.0 (Penyakit Paru Obstruktif Kronik dengan infeksi saluran pernafasan bawah akut).

3.       J44.1 (Penyakit Paru Bostriktif Kronik dengan Eksaserbasi akut).

4.       J44.9 (Penyakit Paru Obstruktif Kronik, tidak spesifik/unspecified).

Mengutip dari buku Community and Familly Health Nursing – 1st Indonesian Eidition oleh Mary A. Dan Melanie Mc, Ewen (2018), rokok adalah penjadi factor tertinggi dalam penyebab terjadinya inflamasi kronik setiap pasien PPOK ini. Hal itu sudah termasuk perokok aktif maupun pasif.

Lalu, untuk faktor kedua dari terjadinya PPOK ini adalah berasal dari lingkungan pekerjaan yang penuh dengan debu (berdebu) dan polusi limbah yang setiap hari terhirup oleh saluran pernafasan.

Selanjutnya yang terakhir adalah berupa faktor defisiensi antirypsin alfa.

Di Amerika sendiri, definisiensi enzim yang paling banyak dialami oleh Sebagian besar orang-orang Kausasian-Amerika.

Emfiema ini bisa saja terjadi pada usia sebelum 30 tahun, baik dengan atau tanpa paparan dari asap rokok.

Gejala awal dari PPOK ini dapat dikenali dengan tiga macam tanda, yaitu :

1.       Batuk kronik

2.       Produksi sputum

3.       Dispnea

Berdasarkan informasi dari buku Bunga Rampai Kedokteran Respirasi 2020, terdapat

384 juta kasus PPOK di seluruh dunia pada tahun 2010 lalu.

Sedangkan pada tahun 2018, PPOK telah menjadi penyebab utama dari kematian keempat di dunia.

Lalu diperkirakan pula bahwa penyakit tersebut akan menyebabkan 4,5 juta kematian pada tahun 2030 mendatang.

Dalam upaya untuk mencegah agar tidak sampai terjadi PPOK, maka penggunaan rokok setidaknya harus diturunkan.

Sementara itu, pemulihan dari terjadinya PPOK bisa saja dilakukan dengan terapi obat-obatan, dengan diawali melalui pemberian bronkodilator untuk mengatasi terjadinya spasme bronchus dan semakin menurunkan terjadinya obstruksi jalan nafas, sehingga ventilasi bisa dengan mudah dilakukan.

Pada kasus PPOK yang sudah akut, sangat disarankan untuk memberikan kortikosteroid agar bisa menurunkan gejalanya.

Selanjutnya, untuk pemulihannya harus dilakukan dengan cara rehabilitasi pada paru dan terapi oksigen untuk Dispnea berat.

Demikian penjelasan seputar Kode ICD-10 The International Classification of Diseases and Related-health Problem 10th) Diagnosa Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) semoga bisa bermanfaat dan terimakasih.